SMPIT Permata – Probolinggo: Sekolah Eksakta Integra “Islamica”

LOGO-PERMATA-SELARAS-65

Memudarnya kecemerlangan pendidikan Islam (the decline of Islamic learning) sesungguhnya sudah terjadi sejak ratusan tahun yang silam. Salah satu sebab utama layunya intelektualisme Islam adalah saat dunia pendidikan Islam terjadi dikotomi keilmuan; terbelahnya ilmu agama (‘ilmu diniyah) dengan ilmu dunia (‘ilmu dunya), dikotomi antara wahyu dan alam, serta dikotomi antara wahyu dan akal.

Dikotomi yang pertama telah melanggengkan supremasi ilmu-ilmu agama yang berjalan secara monotonic. Dikotomi kedua telah menyebabkan kemiskinan penelitian empiris dalam pendidikan Islam. Dikotomi yang terakhir telah menjauhkan filsafat dari pendidikan Islam.

smpit-permata-probolinggo-mukadimah-01
SMP IT Permata – Probolinggo, Jawa Timur

Dunia pendidikan Islam telah terjebak pada simtom dikotomik yang sangat parah: ‘sekulerisasi’ dan ‘sakralisasi’ pendidikan. Sekulerisasi bermakna bahwa pendidikan telah melepaskan dirinya dari agama. Agama diartikan sebagai sesuatu yang ‘hanya’ berhubungan dengan masalah ibadah ritual, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan urusan-urusan mu’amalah terbatas seperti nikah, talak, rujuk, warisan, dan pengurusan jenazah. Agama tidak ada hubungannya dengan sains, teknologi, terlebih laga kepada ilmu sosial, hukum, politik, dan budaya.

Sedangkan pada sekolah agama (madrasah ataupun pesantren) pendidikannya terlalu asyik dengan kajian-kajian ajaran Islam klasik yang membahas fiqh, hadis ataupun tafsir tanpa peduli dengan perkembangan jaman, kemajuan sains dan teknologi yang sesungguhnya relevan untuk diketahui, dipahami bahkan dikuasi.

Alhasil, ‘Islam’ hanya diartikan sebatas ‘agama’, yang bukan ‘ad Din’ yang makna hakikinya melingkupi seluruh aturan hidup dan kehidupan (minhajul hayah). Dengan paradigma yang seperti itu, wajarlah jika pendidikan Islam pun terjebak ke dalam lingkup yang sepit dan ‘lepas’ dalam segala urusan memakmurkan dunia.

Pendidikan Islam di Indonesia yang telah ada selama ini terasa jalan di tempat. Mayoritas lembaga pendidikan Islam tidak menunjukkan kemajuan kinerjanya yang berarti. Dari berbagai tolok ukur (fasilitas, manajemen, SDM, kurikulum), rata-rata pendidikan Islam belum berada pada barisan ‘papan atas’. Pendidikan Islam mengalami kekurangan sumber daya manusia, sumber daya pemikiran, sumber daya dana, dan sumber-sumber belajar. Pendidikan Islam kurang didukung oleh riset dan pengembangan yang berkelanjutan, baik yang dilakukan oleh individu masyarakat maupun oleh pemerintah. Hasilnya model pengelolaan institusi dan pendekatan pembelajaran tidak mengalami perkembangan yang berarti.

SMP Islam Terpadu PERMATA, Probolinggo – Jawa Timur

Ditengah keterpurukan kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan Islam sebagaimana diuraikan di atas, perlu upaya terus menerus dan berkelanjutan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Salah satu upaya mewujudkan idealisme pendidikan tersebut ialah melalui penyelenggaraan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT).

SMPIT Permata – Probolinggo, merupakan SMP Islam yang diselenggarakan dengan memadukan secara integratif nilai dan ajaran Islam dalam bangunan kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal dan koperatif antara guru dan orang tua, serta masyarakat untuk membina karakter dan kompetensi peserta didik.

smpit-permata-probolinggo-mukadimah-02
SMPIT Permata – Probolinggo, Jawa Timur

SMPIT Permata – Probolinggo, menawarkan suatu model sekolah alternatif dan berupaya menerapkan pendekatan penyelanggaraan yang memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam.

SMPIT Permata – Probolinggo, juga menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan konatif atau psikomotor. Implikasi dari keterpaduan ini menuntut pengembangan pendekatan proses pembelajaran yang kaya, variatif, dan menggunakan media serta sumber belajar yang luas dan luwes.

SMPIT Permata – Probolinggo, diselenggarakan berdasarkan konsep ”one for all”.  Artinya, dalam satu atap sekolah peserta didik akan mendapatkan pendidikan umum, pendidikan agama, dan pendidikan keterampilan. Pendidikan umum mengacu kepada kurikulum nasional yang dikembangkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Pendidikan agama menekankan pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, menumbuhkan biah solihah di dalam lingkungan sekolah dan qudwah hasanan oleh seluruh guru dan karyawan sekolah. Sedangkan pendidikan keterampilan dikemas di dalam kegiatan ekstrakurikuler yang menyediakan beragam pilihan kegiatan yang seluruhnya mengacu kepada prinsip-prinsip keterampilan hidup (life skill).

Istilan “terpadu” dalam sistem pendidikan Islam Terpadu sebagai penguat bagi Islam sendiri. Maksudnya adalah Islam yang utuh, menyeluruh, integral, bukuan parsial. Islam yang syumuliyah bukan juz’iayah. Hal ini menjadi semangat utama dalam gerak dakwah di bidang pendidikan, sebagai ‘penangkal’ terhadap pemahaman sekuler, dikotomi, dan juz’iayah. Dengan demikian sistem pendidikan Islam terpadu berupaya untuk mencerahkan pemahaman keilmuan dan membawa bangkitnya ruh Islam dalam setiap sendi kehidupan.

SMPIT Permata – Probolinggo, dibangun dengan paradigma keilmuan yang utuh, berlandaskan pada filosofi “ilmullah”. Dialah Allah yang telah menciptakan alam ini dengan sempurna. Ciptaan-NYA satu sama lain saling terkait dan masing-masing mempunyai manfaat yang berbeda, tetapi semua tunduk dengan sunnatullah yang Allah tetapkan atasnya. Allah yang menciptakan sehingga Dia Maha Mengatahui segalanya. Allah sebagai sumber ilmu pengetahuan, Allah sebagai Al Aliim.

Abdullah Afif – Kepala Sekolah